Memecat Allegri Adalah Kesalahan Terbesar Juventus Menurut Evra

Salah seorang mantan pemain Juventus, Patrice Evra menganggap bahwa kesalahan yang menjadi titik balik anjloknya prestasi Bianconneri belakangan ini adalah pemecatan Massimiliano Allegri, mengapa demikian?

Dalam satu dekade terakhir ini, memang harus diakui bahwa Juventus versi terbaik adalah saat berada dibawah arahan mantan manajer AC Milan tersebut. Bagaimana tidak? 11 trofi dia persembahkan untuk Si Nyonya Tua, bahkan mencapai final Liga Champions Eropa di dua kesempatan.

Lebih hebatnya lagi, semua prestasi tersebut dicatatkan Allegri hanya dalam kurun waktu lima musim menangani Juventus. Bahkan, apa yang ditorehkannya sudah lebih baik dari torehan manajer sebelumnya, Antonio Conte.

Namun sayangnya, pada musim panas tahun 2019 lalu, Juventus sepakat untuk berpisah dengan Allegri kemudian menggantikannya dengan Maurizio Sarri.

Di Era Sarri, Juventus tak lebih baik, terlepas dari keberhasilan klub mempertahankan trofi Scudetto. Eks pelatih Napoli itu kemudian didepak pada musim panas kemarin lalu digantikan pelatih non-pengalaman, Andrea Pirlo.

Dibawah arahan Pirlo, situasi Juventus justru lebih buruk dimana mereka sudah pasti gagal mempertahankan Scudetto bahkan terancam tak lolos ke Liga Champions Eropa musim depan.

Evra sendiri berharap agar Pirlo tetap dipertahankan musim depan, namun dia tidak bisa memungkiri bahwa keputusan Juventus memecat Allegri merupakan keputusan yang salah.

“Saya berharap Pirlo baik-baik saja, dia adalah teman yang baik dan harapannya dia bisa bertahan di Juventus selama mungkin,”

“Namun saya juga harus berkata bahwa kesalahan terbesar adalah memecat Allegri; dia adalah pelatih yang cerdas,” Demikian kata Evra lewat sebuah video yang diunggah di media sosial Instagram miliknya.

Selama lima tahun menangani Juventus, Allegri berhasil membawa Bianconneri melangkah ke final Liga Champions Eropa di tahun 2015 dan 2017. Sayang, di kedua kesempatan tersebut dia gagal membawa Juve jadi juara. DAFTAR SBOBET

Para fans kemudian mengkritik sang pelatih dengan menudingnya masih berpihak pada sang mantan klub, AC Milan.

“Fans mengkritik bahkan ketika dia menang dan membawa kami ke final Liga Champions. Anda berpikir kalau dia adalah ‘orang Milan’, tapi percayalah, dia cinta Juventus dan masih sampai sekarang,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

*
*

Required fields are marked *